Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam / BKSDA Nusa Tenggara Timur mengungkapkan bahwa populasi kakatua jambul kuning yang terdapat di provinsi berbasis kepulauan itu kini tersisa 40 ekor saja. Perburuan liar menjadi penyebab burung jenis paruh bengkok yang dilindungi itu kian menyusut jumlahnya.
"Untuk di NTT kakaktua jambul kuning adalah hewan liar yang dilindungi oleh Undang-Undang. Burung jenis ini jumlahnya sampai saat ini tinggal 40 ekor," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) Tamen Sitorus kepada wartawan di Kupang, Selasa (30/1). Ia menjelaskan hal ini berkaitan dengan semakin punahya kakatua jambul kuning yang sebenarnya dilindungi oleh UU dan PP No.7/1999. Berkurangnya populasi jenis parrot tersebut akibat banyak diburu oleh masyarakat. Jumlah tersebut meliputi dua site monitoring BBSDA NTT, yaitu di Taman Wisata Alam Manipo di Kabupaten Kupang dan Suaka Margasatwa Harlu di Kabupaten Rote Ndao. Untuk menjaga kelestarian kakatua jambul, BKSDA terus bekerja sama dengan sejumlah pihak agar bisa memantau kawasan yang menjadi lokasi berkembangbiaknya spesies burung yang dikenal cerdas itu. Terlebih lagi di tahun 2014, pemerintah sudah mengeluarkan UU perlindungan terhadap satwa-satwa liar yang menjadi prioritas perlindungan, salah satunya adalah kakatua jambul kuning. Oleh karena itu, setiap tahun pihaknya menargetkan peningkatan populasi burung jenis ini sebanyak 10 persen, artinya jika tahun 2017 hanya terdapat 40 ekor, maka di tahun 2018 ini diharapkan populasinya bisa mengalami peningkatan sebanyak dua ekor. Untuk itu, mereka mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak memburu satwa-satwa yang dilindungi, karena jika tertangkap sudah pasti akan diberikan sangsi tegas.
Manyar adalah jenis burung pemakan biji-bijian yang masih bisa dijumpai di beberapa daerah di Indonesia. Spesies burung ini menyukai habitat terbuka seperti padang rumput, tepian hutan, rawa-rawa, perkebunan, sawah, dan sering juga bersarang di pekarangan. Manyar mungkin masih dipandang sebelah mata oleh sebagian kicaumania, tapi jika dirawat sejak masih berumur muda, manyar akan mempunyai kemampuan berkicau yang tidak kalah dari kenari dan sejenisnya. Bahkan beberapa jenis burung manyar bisa dimanfaatkan untuk masteran.
Jenis manyar untuk masteran
Manyar merupakan spesies burung dari keluarga Ploceidae dalam marga Ploceus. Secara umum terdapat empat jenis manyar yang terdapat di kawasan Asia Tenggara yang tiga jenis di antaranya dapat ditemukan di dalam wilayah Indonesia. Ketiga jenis manyar itu pun cukup popular dan kerap dipelihara sebagai masteran yaitu: 1. Manyar Jambul ( Streaked weaver / Ploceus manyar ) Manyar jambul merupakan jenis manyar yang mempunyai ukuran tubuh paling kecil yaitu 14 cm daripada dua jenis manyar lainnya. Burung jantan mempunyai warna bulu hitam dan kuning pada kepalanya yang di musim kawin warna kepalanya akan berubah menjadi kuning keemasan. Betina mempunyai bulu kepala yang berwarna kecoklatan dengan coretan hitam pada bagian mahkotanya dan bercak putih di leher.
Manyar jambul jantan dan betina
Manyar jambul terdiri atas 4 subspesies / ras, dengan wilayah persebaran yang berbeda, yaitu:
Ploceus manyar flaviceps : Habitat di wilayah tengah dan tenggara Nepal dan Pakistan, hingga India dan Sri Lanka.
Ploceus manyar peguensis : Habitat di wilayah timur India, Bangladesh, wilayah tenggara Bhutan, wilayah utara dan tengah Myanmar, wilayah selatan China, dan wilayah utara Laos.
Ploceus manyar williamsoni : Habitat di wilayah barat, tengah dan tenggara Thailand, Kamboja, dan wilayah selatan Vietnam.
Ploceus manyar manyar: Ras inilah yang merupakan burung endemik di Pulau Jawa, Pulau Bawean, dan Pulau Bali.
Manyar jambul sering ditemukan dalam koloni besar di beberapa tempat di dataran rendah. Dulu, burung ini mudah dijumpai di pohon kelapa atau tanaman palm di halaman rumah, juga pohon-pohon di sekitar kebun atau semak-semak. 2. Manyar emas (Asian golden weaver / Ploceus hypoxanthus) Manyar emas mempunyai ukuran tubuh sedang yaitu 15 cm. Bulunya mudah dikenali karena berwarna kuning keemasan dengan bagian muka / wajah yang berwarna hitam. Pada musim berbiak, burung jantan mempunyai mahkota, tungging dan bulu bagian bawah yang berwarna kuning sedangkan sisi muka, dagu dan tenggorokan berwarna hitam.
Manyar emas jantan dan betina
Burung manyar emas hanya terdiri atas dua subspesies / ras, dengan perbedaan wilayah persebaran yang sangat tegas, yaitu:
Ploceus hypoxanthus hymenaicus : Ras ini memiliki wilayah persebaran di Myanmar bagian tengah, baratdaya dan selatan, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam bagian selatan.
Ploceus hypoxanthus hypoxanthus : Ras ini memiliki wilayah persebaran di Sumatera bagian timur dan Pulau Jawa.
Manyar emas termasuk burung yang sangat jarang dijumpai. Mereka hidup secara berkelompok / koloni di antara semak-semak dan gelagah, baik di kawasan rawa maupun wilayah terbuka yang banyak rawanya.
Perkembangbiakan burung manyar emas tercatat di Danau Toba (Sumatera Utara) dan Taman Nasional Baluran di Jawa Timur. 3. Manyar tempua (Baya weaver / Ploceus philippinus) Manyar tempua mempunyai ukuran tubuh sebesar manyar emas (15 cm). Burung ini banyak ditemukan di kawasan Asia Tengara dan Asia Utara. Tapi tidak seperti nama latinnya yang mengandung kata philippinus, spesies manyar ini justru tidak akan bisa dijumpai di Filipina.
Manyar tempua jantan dan betina
Pada musim berkembang biak, burung jantan akan memiliki mahkota dan tengkuk berwarna kuning emas, wajah hitam, tubuh bagian bawah berwarna kuning tua, dan tubuh atas coklat abu-abu. Betina tidak memiliki tanda hitam dan kuning di bagian kepala. Burung manyar tempua terdiri atas lima subspesies / ras, dengan wilayah persebaran sebagai berikut:
Ploceus philippinus philippinus : Pakistan, India, Nepal selatan, dan Sri Lanka.
Ploceus philippinus travancoreensis : India bagian baratdaya.
Ploceus philippinus burmanicus : India timurlaut, Bhutan selatan, Bangladesh, Myanmar utara, dan ujung selatan China .
Ploceus philippinus angelorum : Thailand (timur, tengah, utara) hingga ke selatan Laos.
Ploceus philippinus infortunatus: Myanmar bagian selatan, Thailand barat dan selatan, Vietnam selatan, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Pulau Nias, Jawa dan Bali (di beberapa tempat sudah hampir punah).
Manyar tempua adalah burung sosial yang kerap dijumpai bersama-sama dengan jenis burung lainnya. Biasanya merak ditemukan bersama dengan koloninya pada waktu mencari makanan yang berupa benih yang terdapa pada tanaman maupun di permukaan tanah.
Burung manyar tempua sering terlihat mengumpulkan padi dan bijian lainnya di petak-petak sawah yang akan dipanen. Karena sering merusak, burung manyar ini dianggap sebagai hama bagi petani.
Memelihara burung kicauan tidak sekedar memberi makan dan minum lalu menggantung sangkarnya di teras agar berbunyi. Ada beberapa pola perawatan yang harus dilakukan, terutama untuk menjaga kondisi dari burung tersebut. Empat hal ini kerap diabaikan oleh kicaumania, apa sajakah itu?
Merawat burung peliharaan membutuhkan perhatian yang lebih serius, terutama karena mereka juga merupakan mahluk hidup yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Dengan adanya perhatian tersebut maka mereka akan semakin terjaga kondisinya dan menjadikannya lebih rajin berbunyi. Adapun perhatian yang dilakukan oleh kicaumania terwujud dalam bentuk perawatan harian, yang meliputi pemberian pakan dan minum, memberinya mandi, menjemur, dan menjaga kesehatannya dari cuaca panas maupun dingin. Akan tetapi, sering dijumpai banyak kicaumania yang merawat burung mereka secara rutin, namun terkadang mengabaikan beberapa hal. Berikut empat hal yang kerap di abaikan oleh kicaumania. 1. Menyimpan makanan burung Banyak kicaumania kerap mengabaikan hal penting ini yaitu menjaga kualitas dari makanan burung yang digunakan. Padahal kita semua tahu, apa yang dimakan oleh burung dapat menentukan kesehatan dari burung itu sendiri. Sampai hari ini pun masih banyak kicaumania yang terkesan asal-asalan menyimpan makanan yang akan diberikan untuk momongannya. Ada yang sekedar menggunting bagian ujung dari kemasan pakannya lalu dilipat dan dikat dengan karet setelah digunakan, ada juga yang dibuntel bersama dengan jenis pakan burung lainnya lalu dimasukkan dalam kantong kresek dan disimpan. Nah, anda termasuk tipe yang mana hayoo .. Menyimpan pakan burung secara asal-asalan apalagi disimpan di tempat yang tidak layak akan cenderung membuat makanan burung tersebut kemasukan udara, akibatnya pakan tersebut menjadi berjamur, bau apek, digerumuti semut, sampai menjadi makanan tikus. Selain itu, menyimpan pakan burung yang dibiarkan terbuka pun akan rentan terinfeksi tungau makanan. Jenis tungau ini dikenal dengan sebutan tungau tepung, dan akan berkembang biak dalam tempat penyimpanan pakan burung, misalnya voer atau biji-bijian. Kenapa kita harus menyimpan pakan burung dengan cara yang benar? Karena sebagian besar jenis pakan burung yang dijual di pasaran memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Kandungan nutrisi dari pakan tersebut bisa saja rusak jika dalam penyimpanannya tidak dilakukan dengan cara yang tepat, misalnya selalu terkena cahaya matahari, disimpan di tempat yang terlalu lembab, dan tempat pakan selalu dibiarkan terbuka. Menyimpan pakan yang baik adalah dengan menuangkan voer atau pakan biji-bijian yang baru kita beli ke dalam wadah / toples yang memiliki tutup kedap udara. Jangan lupa masukkan pula silica gel yang berfungsi menjaga pakan tetap kering dan terhindar dari kelembaban. Dengan menyimpan pakan burung dalam wadah yang tertutup rapat, maka kualitas pakan tersebut akan selalu terjaga sehingga kandungan nutrisinya bisa dinikmati oleh burung yang mengonsumsinya. 2. Penyajian makanan Selain menyimpan pakan dengan cara yang benar, penyajiannya ketika diberikan pada burung pun harus dilakukan dengan cara yang tepat. Pemberian pakan untuk burung peliharaan sebaiknya diatur maksimal untuk kebutuhan selama dua hari saja. Lebih dari itu pakan kemudian diganti dengan yang lebih segar. Pakan yang dibiarkan dalam cepuk pakannya selama berhari-hari memiliki resiko terkontaminasi bakteri atau jamur. Sehingga harus diganti dengan yang baru dalam waktu satu - dua hari. Selan itu, jangan biarkan ada sisa pakan yang masih menempel di cepuknya ketika akan menuangkan pakan baru yang masih segar, karena kemungkinan pakan bisa terserang jamur dan bakteri. 3. Menjaga kebersihan sangkar dan perlengkapannya Membersihkan sangkar dan perlengkapannya secara rutin bisa membantu menjaga kondisi dan kesehatan dari burung peliharaan di dalamnya. Membersihkan sangkar tidak hanya sebatas membuang kotoran dari bak penampung kotorannya saja tetapi juga dilakukan secara lebih menyeluruh, misalnya membersihkan tenggeran dari bekas kotoran, jamur, atau bahkan kutu yang menempel. Membersihkan cepuk pakan dan minumnya dari jamur atau lumut, juga membersihkan setiap sudut sangkar dengan menggunakan desinfektan khusus seperti FreshAves untuk mencegah dan membunuh tungau, bakteri, parasit, dan virus yang bisa menyerang momongan kita itu. 4. Memilih pakan serangga yang sehat dan segar Pemberian serangga pun terkadang dilakukan dengan cara asal pilih saja, padahal banyak juga loh serangga seperti jangkrik atau ulat hongkong yang dapat menjadi pembawa penyakit karena kandang atau wadah yang digunakannya cenderung kotor dan berair. Oleh karena itu, jika EF serangga yang anda miliki itu sebagian besar sudah banyak yang mati atau berubah warna, atau bahkan sangat berbau, mending gak usah digunakan dan memberi pakan serangga yang masih segar. Simpan serangga tersebut dalam wadah yang terjaga kebersihannya, dan yang penting tidak menyimpannya di tempat yang sangat lembab atau terlalu kering, cukup dimpan pada suhu ruangan saja. 5. Melengkapi kebutuhan multivitamin Kesehatan adalah hal paling penting yang harus dijaga, begitu pula ketika kita memelihara burung kicauan. Burung yang sehat tentu akan membanggakan tuannya dengan suaranya yang merdu dan bulu-bulunya yang indah. Untuk mendapatkan hal tersebut tentu tidak cukup hanya dengan memberinya makanan dan minuman saja. Burung peliharaan berbeda dengan burung liar yang bisa mendapatkan beragam jenis makanan yang sangat bervariasi. Oleh karena itu, untuk melengkapi kebutuhan nutrisinya, kicaumania perlu menyediakan suplemen multivitamin dalam perawatan hariannya. Berikan multivitamin sekelas BirdVit ke dalam air minumnya setiap dua - tiga hari sekali. Hal yang cukup sepele tersebut terbukti mampu menjaga kondisi burung dan membuatnya tetap aktif dan rajin berkicau.
Itulah lima hal yang selama ini kerap diabaikan oleh kicaumania. Semoga manfaat
Starling atau burung jalak adalah jenis burung berukuran sedang hingga besar yang berasal dari keluarga Sturnidae. Spesies ini rata-rata mempunyai ukuran kaki yang panjang dan sebanding dengan ukuran tubuhnya (proporsional). Di kalangan kicaumania di Indonesia, ada beberapa fakta menarik seputar burung jalak yang patut anda simak, berikut adalah ulasannya.
Beberapa fakta menarik burung jalak di Indonesia
Selain perkutut, jenis burung yang sudah dipelihara sebagai klangenan sejak zaman dahulu adalah burung jalak kerbau.
Ada beberapa jenis burung jalak yang tersebar di Indonesia, tetapi hanya beberapa jenisnya saja yang cukup popular d kalangan kicaumania yaitu jalak suren, jalak kebo, jalak putih, dan beo.
Suara ocehan burung jalak juga sering digunakan untuk melatih/masteran burung peliharaan jenis lainnya.
Dibandingkan jenis burung yang lain, burung jalak sangat mudah dijinakkan dan cepat beradaptasi.
Secara umum, hampir semua jenis burung jalak sangat sulit dibedakan antara jantan dengan betinanya. Satu-satunya cara yang lebih akurat adalah dengan memeriksa kloaka dari burung tersebut. Kloaka burung jantan biasanya lebih menonjol daripada jalak betina.
Jalak sebenarnya dalah burung herbivora alilas pemakan segalanya. Tapi dalam perawatan hariannya, burung jalak hanya mendapatkan beberapa jenis pakan saja seperti buah pisang, serangga kecil dan voer.
Burung beo termasuk salah satu keluarga dari burung jalak-jalakan. Spesies burung ini sangat digemari karena kepandaiannya menirukan suara manusia.
Beo nias adalah jenis burung yang terancam punah di habitat aslinya, sehingga untuk melindunginya pemerintah menetapkan spesies ini dalam daftar burung dilindungi.
Jalak bali termasuk dalam spesies burung yang hampir punah dan dilindungi. Spesies burung cantik ini hanya ditemukan di bagian barat pulau Bali dan ditetapkan sebagai lambang fauna provinsi tersebut.
Dalam salah satu kebudayaan di India khususnya bagi masyarakat Sema Naga, salah satu suku Naga Besar di India, burung jalak suren dianggap sebagai reinkarnasi dari manusia. Karena alasan itu, mereka tidak berani untuk memelihara maupun menyakitinya.
Burung jalak sebenarnya dapat dilatih untuk menjadi hewan penurut yang dapat mengikuti kemana pun tuannya pergi.
Proses perkembangbiakan jalak bali berlangsung pada musim penghujan. Di habitat aslinya, jalak bali akan berbiak pada bulan November s/d bulan Mei. Jalak suren hidup dengan cara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Namun di malam hari, mereka akan tidur dalam kelompok besar untuk tujuan saling melindungi.
Bagi masyarakat Indonesia, jalak suren dan jalak kerbau dianggap sangat membantu para petani karena memangsa serangga yang bersifat merusak hasil panen mereka. Selain itu, burung jalak juga membantu mengusir serangga yang hinggap di tubuh kerbau.
Populasi jalak suren sudah sangat sulit ditemukan di alam liar, namun di penangkaran populasinya sangat berlimpah. Salah satu penyebab berkurangnya burung jalak di alam adalah penggunaan pestisida berlebihan yang membunuh pakan alami mereka.
Jalak bali ternyata hanya mampu menetaskan 1 atau 2 butir telur saja dari 3 - 4 butir telur yang mereka produksi. Kondisi tersebut yang membuat populasi jalak bali sangat lambat dan langka di alam.
Buaya penghuni taman reptil di Queensland, Australia kini mendapatkan jenis pakan baru yang jumlahnya cukup berlimpah. Pakan baru tersebut adalah jenis burung yang dikenal sebagai kerak ungu / jalak ungu. Burung pandatang ini memang telah lama membuat repot pemerintah setempat karena sifatnya yang agresif sehingga mengusir burung-burung asli Australia.
Di Australia, kerak ungu adalah jenis burung yang pada masa lalu sengaja didatangkan ke Australia untuk mengusir burung-burung perusak ladang pertanian. Namun setelah beberapa tahun, populasi kerak ungu ternyata semakin meningkat pesat dan mulai mengancam keberadaan jenis burung asli Australia dan juga menyebarkan penyakit dengan kotorannya yang berserakan di mana-mana.
Spesies burung yang dianggap hama itu kini banyak diburu untuk dibasmi. Salah satunya adalah untuk dijadikan sebagai makanan buaya-buaya di Snakes Downunder Reptile Park, Childers. Memanfaatkan burung kerak ungu sebagai makanan buaya dianggap sangat masuk akal daripada hanya dibuang begitu saja atau dikubur.
Selama beberapa tahun, pemerintah Australia berusaha membasmi burung kerak ungu yang dianggap sebagai hama tersebut. Bahkan untuk mendukung program mereka, pemerintah memberikan kompensasi sebesar 2 Dollar Australia untuk satu ekor burung kerak ungu yang ditangkap oleh penduduk setempat. Dewan pun akan meminjamkan perangkap burung kepada warga yang tertarik menangkap burung tersebut.
Kerak ungu atau Common/Indian myna dianggap sebagai salah satu spesies terburuk yang diperkenalkan ke Australia lantaran perilaku mereka yang cukup agresif. Burung ini mengusir burung-burung asli dan hewan-hewan marsupial pohon.
Setelah tertangkap, burung kerak ungu itu akan dikumpulkan lalu dibunuh dengan menggunakan gas setelah itu disimpan dalam freezer. Bangkai-bangkai burung itu kemudian dimanfaatkan sebagai makanan untuk buaya-buaya dan juga biawak.
Burung cucak keling atau camperling (Sunda: Cangkeling)mempunyai tubuh berbalut bulu hitam mengkilap dan mata yang berwarna merah menyala. Spesies burung ini cukup dikenal di kalangan kicaumania sebagai burung masteran maupun pemancing bunyi karena suara kicauannya yang cukup lantang. Selain itu, cucak keling juga pandai menirukan beragam suara ocehan burung lainnya. Berikut adalah cara merawat burung cucak keling untuk masteran.
Cucak keling memiliki nama resmi Perling kumbang. Spesies burung ini tersebar di hampir seluruh wilayah di Indonesia dengan penyebaran terbesar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Terdapat sekitar 14 spesies cucak keling di seluruh dunia yang sebagian besarnya dapat ditemukan di Indonesia.
Cucak keling mempunyai suara kicauan yang nyaring dan penuh variasi. Bagi sebagian kicaumania, cucak keling dipelihara sebagai burung masteran karena suaranya yang mirip suara ciilin. Untuk membuat burung cucak keling rajin bunyi, maka dalam perawatan hariannya harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
Melakukan pengembunan secara rutin.
Memandikan setiap pagi hari pada saat matahari terbit.
Memberikan pakan berupa kroto sebanyak satu sendok teh pada saat burung diangin-anginkan.
Melakukan penjemuran secara teratur di pagi hari, khususnya setelah burung diangin-anginkan setelah mandi.
Menggantung sangkarnya di antara jenis burung peliharaan lain yang ramai berbunyi atau memutarkan suara masteran dari burung lain maupun burung sejenis dengan suara yang keras untuk memancingnya berbunyi.
Memberikan pakan berupa jangkrik dan ulat hongkong setiap hari pada waktu burung dijemur.
Pada sore harinya, burung cucak keling kembali diberikan kroto sebanyak satu sendok teh yang dilanjut dengan memberikan jangkrik dan ulat hongkongnya.
Berikan buah-buahan yang bervariasi.
Menjaga kebersihan sangkar dan cepuk pakan / minumnya secara rutin.
Memelihara lebih dari satu ekor burung cucak keling dapat memancingnya untuk lebih rajin berbunyi dengan suaranya yang keras.
Berikut video burung cucak keling dan suaranya untuk masteran:
Burung bubut adalah satu dari sekitar 30 jenis family cuckoo dari genus Centropus. Tapi tidak seperti jenis cuckoo lainnya, bubut tidak bukan burung parasit yang menitipkan telur mereka di sarang burung lainnya. Walau begitu, sudah berabad-abad lamanya burung ini dikenal sebagai penyembuh patah tulang.
Bubut adalah sebutan di Indonesia untuk Crow pheasant yang dikenal dengan nama Coucal (Centropus sp.). Ada beberapa jenis yang cukup dikenal yaitu Bubut besar (C. sinensis) dan bubut kecil (C. bengalensis). Spesies burung ini tersebar di seluruh daratan Asia mulai dari India hingga ke China, Nepal dan Indonesia.
Burung bubut bersarang di dalam kawasan yang penuh dengan semak belukar yang cukup lebat. Dalam beberapa kebudayaan di Asia, burung bubut dipercaya berkhasiat untuk penyembuhan.
Minyak yang didapatkan dari anakan burung bubut banyak dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka bakar, keseleo, patah tulang, dan sebagainya.
Menurut Madoc (1956): "Ada kepercayaan asli yang menyebutkan bahwa anakan burung bubut dapat dibuat menjadi emulsi yang dapat menyembuhkan segala permasalahan yang berkaitan dengan tulang, termasuk patah tulang. Mereka yang mencari bahan obat ini kemudian memperlakukan anak-anak burung itu dengan sangat kejam, sebelum merebusnya mereka mencampurkan minyak kelapa untuk membuat emulsi,"
Dari sebuah forum mailist dikatakan pula bahwa masyarakat TIonghoa maupun penduduk asli di Borneo sering mencari keberadaan sarang burung bubut. Jika ditemukan ada anakan burung di dalamnya, mereka akan mematahkan kaki anak-anak burung itu lalu ditinggalkan selama beberapa hari. Nantinya induk burung tersebut akan membawakan herbal untuk dilolohkan pada anak-anak mereka yang patah kakinya.
Ajaibnya, pakan yang diberikan itu mampu menyembuhkan dalam waktu yang cukup singkat. Pada waktu si pemburu mendatangi sarang dan mengetahui kaki anakan burung itu telah sembuh, mereka akan membawa sarang dan isinya untuk diolah menjadi minyak.
Habitat dan perilaku burung bubut
Burung bubut (Centropus sinensis) memiliki penampilan seperti elang namun dengan postur yang tidak tegap. Bulu-bulunya sangat halus yang didominasi warna hitam dan sedikit jinggal atau kuning kemerahan di sekitar sayapnya.
Spesies burung ini merupakan pemakan serangga, ulat, hemiptera, katak, kadal dan sebagainya. Habitatnya di tepian hutan terutama di semak-semak belukar yang tinggi dan lebat, hutan mangrove dan tersebar hingga ketinggian 1200 meer di atas permukaan laut.
Bubut besar mempunyai tubuh berukuran panjang 46 cm. Bulu seluruhnya berwarna hitam biru-ungu mengkilap. Sedangkan sayap, mantel dan bulu penutup sayap berwarna coklat berangan. Iris berwarna merah, paruh hitan, kaki hitam. Sering terlihat mencari makanan di permukaan tanah atau di semak-semak dan tajuk terendah dari pohon.
sarang burung bubut
Sarang berbentuk bola yang diletakkan pada rerumputan atau semak yang cukup lebat. Telur berwarna putih dengan bercak kuning yang berjumlah 3 - 4 butir telur. Musim kawin berlangsung pada bulan Maret, April dan Mei.
Burung bubut dapat ditemukan di wilayah Sumatera, Kalimantan, Nias, Mentawai, Jawa dan Bali. Burung ini mempunyai suara yang sangat khas sehingga menjadi sebutan untuk namanya.